Tantangan Besar

بسم الله الرحمن الرحيم

Alhamdulillahirabbil’alamin.

Inilah kisah seorang pemuda. Sejarah sering bicarakan pemuda. Pemuda sering tak terduga. Cobalah lirik hatinya ketika bergelora.

Tercatat sudah dalam sejarah. Di zaman mulia, penuh berkah. Pemuda ini rupanya begitu bergairah. Ketika Islam menguasai hatinya, jalannya sangat terarah. Ketika keimanan mengatur geraknya hidupnya, sangat indah.

Siapakah tertarik jannah? Itu pertanyaan biasa. Berbau basa-basi. Sekarang, jawablah pertanyaan besar, “Siapa berani sajikan buktinya?”

Maka lihatlah, cerita seorang pemuda.

Suatu hari di peperangan Uhud. Peperangan besar setelah Perang Badar. Ketika tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat sebatang pedang. Kemudian beliau bertanya, “Siapakah yang mau mengambil pedang ini?”

Bayangkanlah. Seorang panglima menantang anak buahnya. Dia akan memberi senjata khusus hanya untuk seorang. Tentu sangat menarik. Sungguh istimewa. Memiliki pedang yang ditawarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang pun maju untuk meraihnya. Mereka mendekat ke arah nabi. Hanya saja, Baca lebih lanjut

Menilik Sejarah: Menguak Bibit Pornografi di Indonesia

بسم الله الرحمن الرحيم

Arswendo bagai “anak emas” yang tambah mempercaya “kerajaan” pers paling besar di Indonesia. Dan ia makin seenak perut. Sampai akhirnya dituntut.

Arswendo, begitu nama aslinya lahir di kampong Harjo Dipuran, Solo, 42 tahun yang lalu. Ayahnya, Atmowiloto, pegawai negeri di Balai Kota Solo, sakit-sakitan dan meninggal ketika Wendo masih duduk di kelas 5 SD. Lalu bocah cilik ini dititipkan kepada kerabat keluarga, pedagang klontong Sestrosasmito. Oleh orangtua asuhnya kemudian Wendo diperkenalkan dengan cerita perwayangan, sekaligus akrab dengan nilai-nilai Kejawen. Bahkan, katanya, “Saya bisa ‘ndalang…”.

Imajinasi bocah yang ditempa oleh kemiskinan ini ternyata mengalami proses penajaman. Ia mahir menulis berbagai cerita,yang lantas berhasil memenangkan hadiah Yayasan Buku Utama Depdikbud tahun 1981. Novel Dua Ibu yang dianugrahi dua hadiah itu, “kurang lebih menggambarkan hidup saya…”, katanya.

Sebelumnya, Wendo sudah menjadi seorang penulis cerita yang produktif. Tahun 1968 namanya dikenal di majalah anak si Kuncung. Juga banyak menulis untuk mingguan berbahasa Jawa Dharma Kanda. Sejak itu dia lebih menyukai nama Arswendo. Hingga kini sudah lebih 200 cerita pendek lahir dari tangannya. Belum lagi 10 novel, 8 naskah drama, dan 24 serial cerita silat Senapati Pamungkas.banyak penghargaan sastra yang diberikan untuk tulisannya. Kisah yang berjudul Buyung Hok dalam Kreatifitas Kompromi, 1972, memenangkan hadiah Zaske. Lalu, naskah drama bikinannya (Penantang Tuhan, Bayiku yang Pertama, Sang Pangeran, Sang Pemahat) diberi penghargaan oleh Dewan Kesenian Jakarta sebagai pemenang harapan.

Memperhatikan setiap naskah tulisan Wendo, akhirnya memaksa orang untuk mengatakan bahwa dia cukup peka terhadap apa yang mungkin terjadi atau menimpa seseorang dalam suatu kondisi, juga situasi. Intuisi sastranya terlatih baik. Dan ia mampu mengekspresikannya lewat narasi yang mengalir lancer. Mudah dipahami. Hanya, dari waktu ke waktu, Wendo tidak lebih dalam lagi memaksa permenungan. Sehingga kisahnya tetap saja dangkal. Keberhasilannya, pada tahap yang mandeg itu, adalah memolesnya, hingga semakin popular.

Gejala ini agaknya ikut mewarnai corak majalah remaja Hai terbitan kelompok Kompas Gramedia, yang Baca lebih lanjut

Andai Kekuasaan Begitu Penting

بسم الله الرحمن الرحيم

Saat itu, Mekah masih mencekam. Tirani penyiksaan mewarnai kota tua itu. Ada dua golongan yang berseteru. Di antara keduanya adalah para pembesar yang mencintai kedudukannya. Para pembesar itu dimuliakan di masyarakat. Ketika terjadi perseturuan, merekalah yang menghakimi. Di antara mereka adalah Abul Hakam (bapak kebijaksanaan). Nantinya orang memanggilnya Abu Jahal (bapak kebodohan). Di pihak lain, ‘dipimpin’ oleh seorang terhormat. Dia juga dari keturunan Quraisy. Ayah dan kakeknya tersohor dan dihormati. Tidak ada seorangpun di Jazirah Arab meragukan akhlaqnya. Semua percaya dia tidak pernah berdusta. Dialah Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Yang mengikutinya hanya segelintir orang. Rasul dan pengikutnya sangat tertekan. Hari-hari diwarnai pentas penyiksaan. Jangan tanya betapa pedih luka mereka. Engkau tak perlu bertanya kepada Bilal, berapa panas tanah gurun Mekah. Tubuhnya bagai kacang sangrai. Engkau pun tak perlu bertanya, seterik apa matahari yang memanggang punggungnya. Jangan pula kau bertanya seberapa berat batu menimpa punggungnya.

Ada pula kisah Khabbab bin Art. Dirinya seorang budak. Suatu hari, sang tuan menyiksa si tegar itu. Jika saudaranya Bilal disiksa dengan panggangan matahari dan gurun pasir, maka Khabbab disiksa dengan api yang membakar. Sebuah luka yang mengerikan terpatri di punggungnya. Janganlah kau tanya betapa sakitnya. Tahukah engkau, siapakah yang memadamkan api pembakar punggungnya? Api itu padam dengan nanah yang mengalir akibat luka. Nanah yang mengalir karena keimanan.
Baca lebih lanjut

MENGAPA KITA MENOLAK DEMOKRASI?

بسم الله الرحمن الرحيم

Diringkas dan disarikan dari Mushtholahât wa Mafâhîm karya Syaikh ‘Abdul Âkhir Hammâd al-Ghunaimî hafizhahullâhu

Risalah ini adalah sebuah diskusi ilmiah seputar permasalahan demokrasi dan bagaimana sikap Islam terhadapnya. Yang mendorong saya menulis risalah ini adalah adanya artikel-artikel yang ditulis oleh al-Ustadz Fahmî Huwaidî (salah seorang kolumnis dan penulis senior dan terkenal di Mesir, pen.) yang mengajak untuk berkompromi dengan demokrasi, ketimbang menentang dan mengabaikannya.

Awal mulanya, ada salah satu artikelnya yang menunjukkan bahwa dirinya menganggap Islam itu dizhalimi ketika ada yang beranggapan bahwa Islam itu bertentangan dengan Demokrasi, dan pada akhirnya, artikelnya tersebut menunjukkan pengingkarannya terhadap aktivis muslim yang menolak demokrasi dan menganggap penolakan mereka ini sebagai suatu hal yang syâdz (aneh/ganjil) terhadap seruan Islam secara umum.

Oleh sebab isu demokrasi ini merupakan salah satu hal yang tengah diperbincangkan di dunia Islam dan banyak sekali perdebatan mengenainya akhir-akhir ini, disamping juga adanya orang yang memutlakkan pendapatnya bahwa Islam itu identik dengan sistem demokrasi, bahkan mereka beranggapan bahwa menentang demokrasi itu adalah suatu hal yang syâdz, maka hal ini perlu dikritisi dan dijelaskan. Saya memandang perlunya untuk membantah beberapa hal yang cukup urgen di sini, yang terangkum dalam beberapa poin berikut ini :

1. Penjelasan sikap yang syar’î terhadap demokrasi beserta bukti dan dalil-dalilnya.
2. Penjelasan bahwa sikap menolak demokrasi ini apakah termasuk sikap yang diserukan kaum muslimin secara umum ataukah sikap yang aneh/ganjil
3. Demokrasi itu merupakan sisi lain dari kediktatoran.
Baca lebih lanjut

Ucapan Ulang Tahun Bukan Basa Basi

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillahirabil’alamin. Alladzi allafa baina quluubil mu’minin.

Asyhaduallaa ilaaha illallah, wa anna muhammadar rasulullah. Allahumma shalli wa sallim ‘ala Muhammad…

Sebuah prinsip yang diajarkan; kami ridha Islam sebagai dien/agama. Yang dimaksud dengan dien adalah ideologi/tatanan hidup. Artinya seorang yang muslim menjadikan segala amalannya diatur dengan Islam. Dia melaksanakan yang diperintahkan dalam Islam dan meninggalkan yang dilarang di dalamnya. Kita telah sepakat bahwa dien al-Islam adalah dien yang sempurna. Tidak berlebihan, apalagi kekurangan. Muatannya pas, cocok diterapkan di segala tempat setiap waktu. Seseorang tidak boleh mengada-ada dalam urusan agama. Di sisi lain dia juga tidak boleh beriman dengan sebagian risalah dan mengingkari sebagian lainnya.

Sebagai agama yang sempurna, Islam mengatur segala hal yang dapat mengantarkan manusia kepada keridhoan Allah. Islam juga mengatur bagaimana interaksi seseorang dengan orang-orang di sekitarnya. Islam juga mengatur cara berbuat baik kepada orang lain.

Mungkin bermaksud mempererat persahabatan dan membahagiakan teman…

“dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfaal:63)

Ada sebuah pelajaran dari ucapan seorang yang baru masuk Islam.  Baca lebih lanjut 

Menilik Ketajaman Lisan Nabi – Tips Menjadi Pembicara Hebat

بسم الله الرحمن الرحيم

Jika kita mau jujur, ada sensasi tersendiri dengan kalimat-kalimat berbahasa Arab. Utamanya Al-Qur’an dan hadits, karena itulah yang paling lekat dengan kita. Padatnya lafadz dengan mampatnya makna menghapus kebanggaan bahasa Indonesia terkadang boros kata-kata. Bukankah begitu? Coba rasakan perbedaan antara sebuah hadits dengan sebuah kalimat definisi berbahasa Indonesia. Biasanya, hadits padat, singkat, maknanya sungguh dalam. Sedangkan bahasa kita, terkesan menghambur kata-kata.

‘Ala kulli haal, para ulama’ telah menerangkan bahwa Rasul kita dikaruniai jamii’ul kalam. Ianya adalah istilah dari ulama’ bagi kemampuan istimewa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal kemampuan berbicara. Pembicaraan rasul sangat padat, ringkas, mudah diingat, serta fasih.

Di samping itu, bila kita kaji lebih jauh, dapat kita temukan harta karun mengagumkan untuk manajemen kata-kata. Benarlah demikian, karena beliaulah teladan kita. Segala sunnah/adatnya pantas kita tiru. Sejak bangun tidur, hingga tidur kembali. Sesiapa yang mengikuti sunnahnya, dia akan mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Sedangkan orang-orang yang meremehkannya, dia telah melewatkan bagian besar kebaikan.

Sahabat, marilah kita gali dan temukan mutiara indah dari untaian kata-kata yang mengalir dari lisan qudwah kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hikmah itu dapat kita temukan dalam lafadznya, maknanya, maupun dalam hal lainnya. Maka lihatlah contohnya.

1. Kecerdasan Menjawab Pertanyaan

    Suatu hari seorang sahabat nabi pulang dari Baca lebih lanjut

    Doakan Aku Tegar

    بسم الله الرحمن الرحيم

    Ada fenomena menarik di sekitar kita. Entah ini hanyalah pandangan sempit belaka, atau memang fakta adanya. Konon, era tahun 80-an adalah zaman yang ‘nggak enak’ buat aktivis. Jauh berbeda dengan saat ini. Zaman itu, banyak halangan dakwah. Untuk mengadakan ta’lim kecil-kecilan saja harus siap berurusan dengan aparat. Sebelum mengisi khutbah jum’at – katanya – seorang khatib harus menyetorkan teks khutbah kepada aparat. Pembicaraan pun sangat terbatas. Dakwah begitu terkekang saat itu.

    Berputar mendekati 180 derajat darinya, sekarang majelis ta’lim bertaburan di mana-mana. Hadirin variatif dari segala usia.Majelis-majelis kecil menghiasi masjid-masjid besar. Mubaligh tidak perlu menyetor teks khutbah ke ‘lembaga sensor’. Dakwah – khususnya ceramah –  bisa dilakukan oleh siapa saja yang berkompeten.

    Wahai para pejuang, bergembiralah dan bersabar …

    Perkembangan dakwah berimbas pada metode dakwah. Muslimin semakin kreatif mengemas dakwah. Kajian dibalut lembaran inovasi. Akan tetapi kalau tidak hati-hati Baca lebih lanjut