Ini Aku >> Namaku Syahadah

بسم الله الرحمن الرحيم

Aku diberi nama Syahadah, ringkas dan mudah bunyinya. Namun maknanya sangat besar, suatu yang berharga bagi sebagian manusia yang sadar akan wujud dirinya. Aku dididik dalam keluarga yang harmoni, ayahku bernama Muslim Bin Hanif. Manakala ibuku bernama Amanah Binti Taklif. Jadi jelaslah aku ini sebagai seorang islam kalaupun dalam kartu pengenalku perkataan islam tidak tertera. Tetapi aku berbangga mengumumkan kepada dunia status keislamanku.

Keluarga kami berasal dari timur tengah, datuk dan nenekku orang perantau. Mereka selalu merantau dengan membawa bermacam surat dan berita. Mereka bukanlah tukang pos bukan pula wartawan tetapi mereka saudagar yang suka bercerita tentang kebenaran. Kadangkala bila aku menceritakan kaum kerabatku, banyak yang serius mendengar bahkan ingin menjadi keluargaku. Namun begitu, ada juga setengah pihak merasa keluargaku penyekat kemajuan, bahkan kalau bisa mereka ingin saja menyisihkan keluargaku yang harmoni ini dari masyarakat setempat.

Nama adikku juga persis namaku. Solah seorang yang sangat aneh, kadang-kadang dia pendiam, bersuara dalam berbisik, kadang-kadang bersuara lantang. Tetapi dia sangat menyenangi waktu malam, katanya, siang itu gaji pokok dan malam ini bonus. Yang aku tahu tanpa aku dia langsung tiada bermakna karena aku nih lebih utama dari segenap sudut.

Zakah, ini adikku juga, prihatin orangnya selalu menderma. Dia tidak seperti Solah, dia selalu saja berdiam diri. Tetapi dia ini memerlukan aku juga. Karena tanpa aku dia akan membelanjakan uangnya tanpa faedah untuk masa depannya. Itulah adikku yang selalu orang salah anggap. Dia sangat berpengaruh dalam kemaafan entahlah mungkin karena dia menyentuh dengan sifat prihatinnya sesama hamba.

Adikku yang seterusnya bernama Siam. Nama orang ini sedikit pelik, ada juga orang sebut dia Ramadhan. Dia sehat malah kadang-kadang menjadi dokter bagi kami semua. Selalu saja merawat aku. Tetapi yang sebenarnya dia juga memerlukan aku. Pentingnya aku pada dia adalah menjaga tumpuan amalannya supaya tidak tersia-sia penatnya. Kadang-kadang orang menzaliminya, sehingga tiada apa yang tinggal padanya untuk digunakan di masa akan datang.

Adikku yang bungsu ini sungguh sedap namanya; Mabrur. Tatkala ayahku mendapatkannya, sungguh ia baru lahir semula. Ayahku sungguh beruntung karena memiliki dia. Walaupun adikku ini menuntut dari ayahku pada kesabaran harta benda serta banyak pantangnya, ayahku tetap berusaha menunaikannya. Apapun takkan berguna kalau ayahku tidak memelihara aku yang sulung ini karena aku sangat bermakna kepada adikku, sekiranya apa yang dijanjikan kepadaku tidak tertunai maka dia takkan menerima pemberian si ayah. Merajuknya bukan main-main. Kalau dia pergi maka jangan harap kan berjumpa lagi.

Ayahku seorang ayah yang sangat baik. Sebab itu Tuannya sering menjanjikan kejayaan baginya. Tuannya sangat penyayang. Tuannya senantiasa ingatkan ayahku supaya memelihara kami adik-beradik. Namun ada rekan kerja ayahku suka membuang anak-anak mereka. Tuan ayahku sangat marah tetapi tak pernah bersedih. Mereka tetap mendapat gaji. Walaupun bukan saja tidak pandai menjaga anak bahkan istri mereka pun mereka abaikan.

Ayahku sangat sayangkanku. Katanya anak sulung setiap ayah perlu dijaga dan dibanggakan kalau tiada guna hidup senang tiada pula makna harta melimpah ruah, bahkan umur yang panjang juga hilang maknanya. Namun begitu di negara yang aku sayang, gejala membuang anak sulung di tepi-tepi jalan sangat banyak, bahkan ada yang sanggup membuang di dalam pengadilan. Murtad.

Sedangkan ayah sejati seperti ayahku senantiasa berbangga menyayangi kamu adik beradik dan memenuhi tuntutan ibuku. Apalah yang akan terjadi dengan nasib penduduk negaraku nanti.

Adikku Solah selalu memanggil namaku dalam dirinya. Bahkan setiap hari belasan kali dia melaungkan namaku di menara-menara yang menunjukkan rasa sayangnya kepada ayahku dan diriku.

Adikku Solah inilah yang selalu menjaga diriku. Dia tahu aku sangat bermakna, matinya aku maka habislah dia. Solah selalu menghindarkan penyakit dari ayahku tetapi kalau ayahku terkena suatu waba’ juga, maka Zakah dan Siamlah yang akan bergiliran merawat ayahku.

Kami semua senang dengan ayahku. Walaupun ayahku mati kami akan menemaninya. Kami bukan saja hartanya di dunia kami juga hartanya di sana. Aku selalu sadarkan ayahku bahwa Tuannya hanya Satu saja. Aku juga selalu ingatkan ayahku bahwa guru ayahku meninggalkan amanat-amanat dan kitab. Ayahku selalu saja mengulangi penghayatannya dalam menyebut diriku berulang-ulang kali. Sungguh syahdu dia mengungkapkan diriku.

Ayah sangat memerlukanku. Setiap kali berjumpa Tuannya dia pasti akan menyertakan aku di sampingnya. Tuannya selalu mengingatkannya agar jangan melupaiku dan jangan melanggar janji dalam diriku.

Sungguh bermakna aku ini rupanya, tanpaku hidup seseorang tak beda dengan binatang tak berakal. (mutiara amaly)

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: