Doakan Aku Tegar

بسم الله الرحمن الرحيم

Ada fenomena menarik di sekitar kita. Entah ini hanyalah pandangan sempit belaka, atau memang fakta adanya. Konon, era tahun 80-an adalah zaman yang ‘nggak enak’ buat aktivis. Jauh berbeda dengan saat ini. Zaman itu, banyak halangan dakwah. Untuk mengadakan ta’lim kecil-kecilan saja harus siap berurusan dengan aparat. Sebelum mengisi khutbah jum’at – katanya – seorang khatib harus menyetorkan teks khutbah kepada aparat. Pembicaraan pun sangat terbatas. Dakwah begitu terkekang saat itu.

Berputar mendekati 180 derajat darinya, sekarang majelis ta’lim bertaburan di mana-mana. Hadirin variatif dari segala usia.Majelis-majelis kecil menghiasi masjid-masjid besar. Mubaligh tidak perlu menyetor teks khutbah ke ‘lembaga sensor’. Dakwah – khususnya ceramah –  bisa dilakukan oleh siapa saja yang berkompeten.

Wahai para pejuang, bergembiralah dan bersabar …

Perkembangan dakwah berimbas pada metode dakwah. Muslimin semakin kreatif mengemas dakwah. Kajian dibalut lembaran inovasi. Akan tetapi kalau tidak hati-hati bisa kebablasan. Terkadang para da’i menerjang larangan dalam dakwahnya. Entah itu karena kurang hati-hati, kurang ilmu, atau memang menyepelekan. Pada akhirnya, kita harus memahami ayat ini.

“Allah Telah menurunkan air (hujan) dari langit, Maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, Maka arus itu membawa buih yang mengambang. dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, Maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan”. (QS. Ar-Ra’du ayat 17)

Ayat ini menyandang permisalan yang amat anggun. Maknanya begitu dalam. Jika dibandingkan dengan peribahasa, tentu ayat ini jauh lebih berharga dan bermakna.

Allah menurunkan air hujan dari langit, sehingga lembah-lembah banjir menurut ukurannya dan banjir itu membawa buih yang terapung. Buih semacam itu juga terdapat di barang yang dibakar orang waktu membuat perhiasan atau alat-alat (dari logam). Dengan dua kejadian itu, Allah membuat perumpamaan antara yang haq dengan yang bathil. Buih – sebagai gambaran kebathilan – akan kering dan hilang musnah. Adapun barang yang bermanfaat bagi manusia – yakni kebenaran – akan tetap tinggal di bumi. Dengan itu semua Allah membuat banyak perumpamaan.

Subhanallaah… Kita sadar kembali. Sebenarnya, banyak hal di sekeliling kita yang memuat pelajaran berharga. Tentu demikian, karena Allah memang tidak menciptakan langit dan bumi secara sia-sia. Dalam kehidupan kita, di arus air yang mengalir, kita melihat buih dalam jumlah yang sangat banyak. Dia tampak mempesona, mengapung di atas arus air. Seakan-akan menghanyutkan, memiliki kekuatan yang besar. Akan tetapi sebenarnya buih itu lemah. Dia tidak menghanyutkan, bahkan tak berharga. Maka seperti itulah kebathilan. Walaupun pada suatu masa kelihatan seolah-olah kebenaran itu dikalahkan oleh kebathilan, tetapi pada akhirnya kebenaran pula yang akan tetap dan menang. Sebagaimana kita ketahui, arus air jauh lebih kuat dari pada buihnya.

Wahai para pejuang, bergembiralah dan bersabar …

Kebenaran akan selalu menang. Maka bergembiralah orang yang sabar di atas kebenaran. Sedangkan orang-orang yang berpegang hanya kepada sesuatu yang dhohir, yang tampaknya banyak diikuti orang, dia akan tertipu dan menyesal di kemudian hari.

Oleh karena itu, orang-orang yang beriman perlu sabar apabila pada suatu waktu mengalami tekanan-tekanan musuh atau kelihatan seolah-olah kalah, karena pada akhirnya kemenangan itu akan Allah berikan. Sesungguhnya, buih-buih itu akan lenyap. Muncullah di belakangnya kebenaran. Kebatilan-kebatilan yang ada semuanya akan binasa. Cepat atau lambat. Entah nanti, esok, atau sepeninggal kita. Selama ada yang menyuarakannya, kebenaran akan menang. Selama ada yang menyuarakannya, kebenaran akan menang. Sedangkan jika tidak ada yang berani menyuarakan kebenaran, buihlah yang tampak di permukaan. Jadi, kita harus melangkah memperjuangkan yang haq. Sesungguhnya, Allah telah menjanjikan pertolongan kepada penolong agamanya. Intanshurullaha yanshurkum wa yutsabbit aqdaamakum. (QS. Muhammad ayat 7).

Pertanyaannya sekarang, apakah kita termasuk pejuang kebenaran? Atau kita hanyalahorang-orang bisu yang diam melongo dalam kebingungan dan keacuhan terbungkus ketakutan dan kehinaan. Padahal jiwa tak rela.

Kemudian, lebih jauh. Kita tahu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pemilik ‘azzam tak terpatahkan. Dialah sekokoh teladan untuk da’i. Tindak-tanduk beliau bertabur hikmah. Dengan izin Allah – beliau mengangkat manusia dari jurang kehinaan menuju tahta mulia. Dialah teladan kita. Namun, di sisi lain kita tahu, beliau ‘gagal’ mengislamkan pamannya. Abu Thalib tercinta mati dibelenggu kekafiran. Maka benar firman Allah,

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash ayat 56)

Pertanyaannya, apakah kegagalan beliau ‘memberi petunjuk’ pamannya merupakan sebuah aib? Apakah kekafiran pamannya menjadi indikator kegagalan dakwah?

Begitu pula pada Nabi Nuh? Bukankah putranya mati dalam kekafiran? Bagaimana pula dengan Nabi Luth? Bukankah isterinya diadzab Allah? Apakah mereka orang-orang yang gagal? Layakkah mereka dianggap tidak becus berdakwah?

“Dan jika kami perlihatkan kepadamu sebahagian (siksa) yang kami ancamkan kepada mereka atau kami wafatkan kamu (hal itu tidak penting bagimu) Karena Sesungguhnya tugasmu Hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka.” (QS. Ar-Ra’du ayat 40)

Kita tidak akan menjadi lebih baik dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau manusia yang terjaga dari dosa. Akan tetapi, beliau tidak pernah dibebani membuat orang menjadi baik. Beliau tidak diminta memperbaiki lingkungan. Beliau hanya bertugas menyampaikan. Tentu dengan professional, tidak serampangan. Maka mengapa kita berpusing-pusing sedu dengan keadaan lingkungan, jika memang kita telah menyampaikan. Sekali lagi, tentu tidak sekedar menyampaikan. Ada tertib dan adabnya. Bukankah tugas kita ‘hanya’ demikian? Bukankah kita memang tidak mampu menanamkan kecocokan hati pada nurani orang lain kebada kebenaran?

Wahai para pejuang, tulisan ini bukan untuk melemahkan ghirah kita. Memperbaiki lingkungan bukan mustahil. Akan tetapi, waspadailah, jangan sampai kita melanggar syariat-syariat Allah. Jangan sampai kita menghalalkan segala cara untuk memenuhi ambisi kita mengubah keadaan lingkungan dalam dakwah. Jangan sampai kita berpikir, untuk memperbaiki lingkungan, kadang kita perlu ‘melunak’, dengan melanggar sedikit syari’at, mengikuti pola masyarakat, dengan harapan mencapai kemenangan. Masya Allah… Sesungguhnya yang memberi hidayah kepada manusia adalah Allah. Jika cara berdakwah dimurkai Allah, apakah Dia akan memberikan hidayah-Nya yang begitu berharga. Misalnya jika seseorang disuguhi sebuah film, di dalamnya ada pesan untuk berbakti kepada orang tua, sedangkan penyampaiannya dengan mengumbar aurat, menyuguhkan musik maksiat, itupun dibuat oleh orang-orang barat, lalu…

Sesungguhnya dakwah ini bukan masalah sepele. Kita tidak akan berhasil tanpa pertolongan Allah – tentu dalam segala hal pun demikian. Maka apakah kita akan mengemis pertolongan dengan melanggar larangan. Maka bergembiralah dan tetaplah bersabar. Bersabarlah di atas kebenaran.

Pada akhirnya, kita ingat kembali niat kita. Bahwa hidup kita sebagai ibadah. Segala yang kita lakukan untuk mengharap ridha Allah. Termasuk dalam dakwah. Kita menyampaikan kebenaran untuk mengharap ridha Allah. Maka ketika kita telah berbuat sesuai yang dikehendaki Allah, maka urusan selesai. Jika kita sudah berdakwah sesuai sunnah dengan ikhlas, urusan selesai. Apakah objek dakwah menerima atau menolak, itu urusan Allah. Kita tidak kuasa. Maka kita tidak perlu mengada-ada dalam teknik dakwah dengan melanggar syari’at. Karena itu bertentangan dengan tujuan terakhir kita, mencari ridha Allah.

Jika seseorang telah memahami bahwa hidayah datang dari Allah, dan tugasnya ‘hanya’ menyampaikan, setidaknya dia mendapat dua keuntungan.

Pertama, jika dakwahnya ‘gagal’, dia tidak akan larut dalam kesedihan. Dia menyadari bahwa dirinya memang tidak kuasa mengangkut seseorang menuju kampung kebenaran.

Kedua, jika dakwahnya ‘berhasil’, dia tidak akan sombong. Dia menyadari bahwa yang menggerakkan hati objek dakwah adalah Allah Ta’ala. Apapun yang dia lakukan tidak dapat memberikan taufik kepada objek dakwah.

Demikian, sebuah catatan kecil ini. Semoga Allah menjadikannya sebab tergeraknya hati orang sekitar kepada kebenaran. Walaa haula walaa quwwata illaa billaah.

Wahai pejuang kebenaran, tetaplah bersabar…

Pegang teguhlah syariat dalam melangkah…

Jadilah orang yang pantas mendapat pertolongan…

Sesungguhnya Dia bersama orang yang sabar…

Pertolongan akan datang…

Saat kita di puncak kesabaran…

Insya Allah…

Wallahu a’lam

Walhamdulillahirabbil’alamiin…

Yogyakarta, 5 Jumadi Ats-Tsani 1431

Akhukum fillah

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: