Menilik Sejarah: Menguak Bibit Pornografi di Indonesia

بسم الله الرحمن الرحيم

Arswendo bagai “anak emas” yang tambah mempercaya “kerajaan” pers paling besar di Indonesia. Dan ia makin seenak perut. Sampai akhirnya dituntut.

Arswendo, begitu nama aslinya lahir di kampong Harjo Dipuran, Solo, 42 tahun yang lalu. Ayahnya, Atmowiloto, pegawai negeri di Balai Kota Solo, sakit-sakitan dan meninggal ketika Wendo masih duduk di kelas 5 SD. Lalu bocah cilik ini dititipkan kepada kerabat keluarga, pedagang klontong Sestrosasmito. Oleh orangtua asuhnya kemudian Wendo diperkenalkan dengan cerita perwayangan, sekaligus akrab dengan nilai-nilai Kejawen. Bahkan, katanya, “Saya bisa ‘ndalang…”.

Imajinasi bocah yang ditempa oleh kemiskinan ini ternyata mengalami proses penajaman. Ia mahir menulis berbagai cerita,yang lantas berhasil memenangkan hadiah Yayasan Buku Utama Depdikbud tahun 1981. Novel Dua Ibu yang dianugrahi dua hadiah itu, “kurang lebih menggambarkan hidup saya…”, katanya.

Sebelumnya, Wendo sudah menjadi seorang penulis cerita yang produktif. Tahun 1968 namanya dikenal di majalah anak si Kuncung. Juga banyak menulis untuk mingguan berbahasa Jawa Dharma Kanda. Sejak itu dia lebih menyukai nama Arswendo. Hingga kini sudah lebih 200 cerita pendek lahir dari tangannya. Belum lagi 10 novel, 8 naskah drama, dan 24 serial cerita silat Senapati Pamungkas.banyak penghargaan sastra yang diberikan untuk tulisannya. Kisah yang berjudul Buyung Hok dalam Kreatifitas Kompromi, 1972, memenangkan hadiah Zaske. Lalu, naskah drama bikinannya (Penantang Tuhan, Bayiku yang Pertama, Sang Pangeran, Sang Pemahat) diberi penghargaan oleh Dewan Kesenian Jakarta sebagai pemenang harapan.

Memperhatikan setiap naskah tulisan Wendo, akhirnya memaksa orang untuk mengatakan bahwa dia cukup peka terhadap apa yang mungkin terjadi atau menimpa seseorang dalam suatu kondisi, juga situasi. Intuisi sastranya terlatih baik. Dan ia mampu mengekspresikannya lewat narasi yang mengalir lancer. Mudah dipahami. Hanya, dari waktu ke waktu, Wendo tidak lebih dalam lagi memaksa permenungan. Sehingga kisahnya tetap saja dangkal. Keberhasilannya, pada tahap yang mandeg itu, adalah memolesnya, hingga semakin popular.

Gejala ini agaknya ikut mewarnai corak majalah remaja Hai terbitan kelompok Kompas Gramedia, yang sejak tahun 1974 dipimpin olehnya. Nyatanya, corak Wendo laku di pasar. Padahal di Harian Kompas ia Cuma wartawan yang tidak ada apa-apanya. Tokh, untuk konsumen remaja dia nampak sukses.

Berbarengan dengan itu muncul dalam benaknya tentang profil Monitor. Keinginannya untuk menghadirkan sebuah bacaan ringan yang sanggup menjadi pembicaraan hangat di masyarakat ini – menjadi semakin menggebu-gebu sepulangnya dari Iowa State University, setelah lulus program latihan kreatif atas beasiswa Kedutaan Besar AS. Menurutnya, media cetak yang menyajikan acara-acara televise bakal menjulang oplaag-nya. Kepada Jakob Oetama, orang nomor satu di Kelompok Kompas- Gramedia, Wendo mengajukan semacam usulan. Namun, Jakob tidak yakin bisa sukses. Tokh, untuk Wendo yang sudah sangat akrab di kalangan orang TVRI berkat pembuatan drama dan sinetron ini, diberikan juga modal awal yang hanya 300 juta rupiah. Lalu Monitor lahir.

Hasil riset menyebutkan, kalangan bawah adalah pemirsa TVRI yang paling banyak. Maka kebijakan redaksionalnya pun berorientasi ke lapisan pembaca kelas bawah, yang notabene tidak berpendidikan tinggi. Jurus eksploitasi sex and crime, yang senantiasa valid untuk mengkatrol oplaag media cetak dijadikan dasar pijakan.

Maka, public sontak terbelalak. Gemebyar dada dan paha di cover dibuat lebih “seram” oleh judul yang dissosiatif. Tentang isi, terang bikin Lembaga Pengambangan Bahasa naik darah. Monitor menjungkirbalikkan kaedah pemakaian bahasa Indonesia baku. Suatu hal yang sama terjadi di Hai. Reportase Monitor tidak mengharuskan adanya bobot (quality). Yang utama adalah bagaimana merangsang minat dan syahwat siapa yang melihat. Dan Wendo berhasil dengan jurnalisme ini. Yang dengan bangga disebutnya,…..Lher!

Oplaag Monitor melesat jauh dari titik 500.000, bahkan katanya mencapai angka 700.000 eksemplar. Akhirnya Jakob girang. Tidakkah makin banyak oplaag0nya, akan makin banyak pula lapisan pembaca setia penerbitan Kompas? Sehingga pangsa pasar mereka lebih luas terbentuk.

Girangnya Jakob kemudian terganggu oleh Jakarta-Jakarta, salah satu anak penerbitannya yang lain. Pemred JJ, Noorca M. Massardi, dinilainya tidak mampu mengkomersialkan majalah berita bergambar itu, dan pemasukan dari iklan sangat kurang. Noorca lalu digusur. Dan Wendo, yang sudah jadi anak emas, diminta untuk membenahi JJ. Lagi-lagi, wabah jurnalisme Lher menyerang” JJ, karena Wendo di belakangnya. Kontan Jakob senang. Pemasukan dari JJ membesar. Kepada Wendo dianugrahi jabatan sebagai Wakil Kepala Divisi majalah Kelompok Kompas-Gramedia.

Anak emas Jakob makin besar kepala. Jurnalisme-nya seenak perut, meminjam terminology seorang tokoh LSM yang pernah menyatakan keberatan atasnya. Tokh, di sisi lain Wendo menjelma sebagai tokoh. Dia dianggap bertangan ajaib untuk pengembangan pers. Juga paling pantas untuk menjadi penyaji makalah dalam seminar-seminar, yang kebanyakan mengambil tema sekitar sex.

Fenomena Lher menjengkelkan banyak orang, sementara lapisan lain menggemari. Hal itu berlaku dari waktu ke waktu, potensi kejengkelan terus bertumpuk. Terlebih, dengan selimut informasi ringan yang membuat girang dia menghadirkan Senang, padahal seringkali malah mengeksploitasi cacat orang. Atau lewat baju psikologi sosial, Wendo kembali menghadirkan Tiara. Oplaagnya, lagi-lagi, menggembirakan. Jakob senang. Untuk si anak emas diusahakannya tiga buah SIUPP lagi. Satu di antaranya, Pramuka, sudah “nongol” edisi perdananya. Hingga kini, tercatat 22 majalah SIUPP dan non-SIUPP berada dalam kontrol Wendo.

Baginya bukan masalah dicap penjaja pornografi. Ibunya telah dimakamkan menurut cara Islam, sedang dia “nyebrang” ke Katolik setelah kawin. Padahal sosialisasi nilai Kejawen cukup mendominasi bangunan kepribadiannya. Hal itu diceritakan sendiri oleh Wendo kepada Editor.

Dituntut

Jurnalisme Lher yang menjengkelkan itu pun akhirnya menggalang massa pembaca, yang dalam pengamatan sesaat saja menggambarkan betapa pembaca tradisionalnya tidak berpendidikan tinggi, peminat pornografi (baik yang bersifat terang-terangan atau yang munafik), atau mereka yang sama sekali tidak memiliki kepedulian sosial (individu yang cenderung ingin santai). Alhasil, jurnalisme ala Wendo telah menghadirkan lapisan masyarakat juga ala Wendo.

Nakh, kepada lapisan pembaca seperti itulah kemudian Monitor menyodorkan angket, disertai iming-iming hadiah 50 juta rupiah. Siapa tokoh idola?

Wendo, yang dianggap sudah “berjasa” oleh pembacanya karena setia menyajikan dada dan paha banyak dijadikan pilihan dalam angket tak berbatas itu. Dia berada satu tingkat di atas Nabi Muhammad SAW.

Kontan umat Islam marah. Pemuda Islam bergerak mengajukan tuntutan. Kantor tabloid itu diserbu. Dan buru-buru Wendo menyelamatkan diri ke pihak yang berwajib, dia sadar benar keselamatannya terancam. Sekalipun melalui TVRI dia sudah menyatakan kekhilafan. Nyatanya, kejengkelan yang terus mengalami penumpukan selama ini bagai tertumpah. Inilah lapisan masyarakat yang gagal” dicuci otak oleh Jurnalisme Lher-nya Wendo. Mereka sangat emosional. Untunglah pemerintah cepat tanggap, Monitor di breidel. Bahkan, tak kurang Presiden Soeharto sendiri yang akhirnya menyebutkan, “seret Pemred-nya ke meja hijau…!” Tak lain, memang, pemerintah ingin secepatnya meredam kemarahan umat yang kian memuncak. Sebab bukannya tidak mungkin (dan hal itu selalu menjadi kekhawatiran elite) pergolakan yang sedang memanas itu lantas mengalami pergeseran isue; dari kasus Wendo ke arah luapan ketidakpuasan massa terhadap mekanisme pemerintahan yang berdimensi sosial, ekonomi, dan politis. Suatu hal yang rawan tentunya. Kini Wendo sedang diperiksa, berikut lima orang staf redaksinya yang menjadi tim pengumpul angket. Kepada mereka bakal dikenakan tuduhan melanggar pasal 156 dan 156a. dengan hukuman maksimal lima tahun.

Jakob Oetama, tidak membela? Jelas tidak, bahkan dia buru-buru cuci tangan. Seolah Monitor bukan anak kandung Kelompok Kompas-Gramedia. Sebab, adalah “kecelakaan besar” bagi perusahaannya jika umat juga ikut “menghukum” semua penerbitan yang dipayunginya. Tidak bisa dibantah, bahwasanya umat Islam merupakan pangsa pasar paling luas buat penerbitan Kristen ini. (rafiq)

 

Disadur dari sebuah majalah yang terbit Nopember 1990.

Iklan
  1. kompas-gramed pny org kafir tho?

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: