Archive for the ‘ Mutiara Al-Qur'an ’ Category

Tantangan Besar

بسم الله الرحمن الرحيم

Alhamdulillahirabbil’alamin.

Inilah kisah seorang pemuda. Sejarah sering bicarakan pemuda. Pemuda sering tak terduga. Cobalah lirik hatinya ketika bergelora.

Tercatat sudah dalam sejarah. Di zaman mulia, penuh berkah. Pemuda ini rupanya begitu bergairah. Ketika Islam menguasai hatinya, jalannya sangat terarah. Ketika keimanan mengatur geraknya hidupnya, sangat indah.

Siapakah tertarik jannah? Itu pertanyaan biasa. Berbau basa-basi. Sekarang, jawablah pertanyaan besar, “Siapa berani sajikan buktinya?”

Maka lihatlah, cerita seorang pemuda.

Suatu hari di peperangan Uhud. Peperangan besar setelah Perang Badar. Ketika tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat sebatang pedang. Kemudian beliau bertanya, “Siapakah yang mau mengambil pedang ini?”

Bayangkanlah. Seorang panglima menantang anak buahnya. Dia akan memberi senjata khusus hanya untuk seorang. Tentu sangat menarik. Sungguh istimewa. Memiliki pedang yang ditawarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang pun maju untuk meraihnya. Mereka mendekat ke arah nabi. Hanya saja, Baca lebih lanjut

Andai Kekuasaan Begitu Penting

بسم الله الرحمن الرحيم

Saat itu, Mekah masih mencekam. Tirani penyiksaan mewarnai kota tua itu. Ada dua golongan yang berseteru. Di antara keduanya adalah para pembesar yang mencintai kedudukannya. Para pembesar itu dimuliakan di masyarakat. Ketika terjadi perseturuan, merekalah yang menghakimi. Di antara mereka adalah Abul Hakam (bapak kebijaksanaan). Nantinya orang memanggilnya Abu Jahal (bapak kebodohan). Di pihak lain, ‘dipimpin’ oleh seorang terhormat. Dia juga dari keturunan Quraisy. Ayah dan kakeknya tersohor dan dihormati. Tidak ada seorangpun di Jazirah Arab meragukan akhlaqnya. Semua percaya dia tidak pernah berdusta. Dialah Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Yang mengikutinya hanya segelintir orang. Rasul dan pengikutnya sangat tertekan. Hari-hari diwarnai pentas penyiksaan. Jangan tanya betapa pedih luka mereka. Engkau tak perlu bertanya kepada Bilal, berapa panas tanah gurun Mekah. Tubuhnya bagai kacang sangrai. Engkau pun tak perlu bertanya, seterik apa matahari yang memanggang punggungnya. Jangan pula kau bertanya seberapa berat batu menimpa punggungnya.

Ada pula kisah Khabbab bin Art. Dirinya seorang budak. Suatu hari, sang tuan menyiksa si tegar itu. Jika saudaranya Bilal disiksa dengan panggangan matahari dan gurun pasir, maka Khabbab disiksa dengan api yang membakar. Sebuah luka yang mengerikan terpatri di punggungnya. Janganlah kau tanya betapa sakitnya. Tahukah engkau, siapakah yang memadamkan api pembakar punggungnya? Api itu padam dengan nanah yang mengalir akibat luka. Nanah yang mengalir karena keimanan.
Baca lebih lanjut

MENGAPA KITA MENOLAK DEMOKRASI?

بسم الله الرحمن الرحيم

Diringkas dan disarikan dari Mushtholahât wa Mafâhîm karya Syaikh ‘Abdul Âkhir Hammâd al-Ghunaimî hafizhahullâhu

Risalah ini adalah sebuah diskusi ilmiah seputar permasalahan demokrasi dan bagaimana sikap Islam terhadapnya. Yang mendorong saya menulis risalah ini adalah adanya artikel-artikel yang ditulis oleh al-Ustadz Fahmî Huwaidî (salah seorang kolumnis dan penulis senior dan terkenal di Mesir, pen.) yang mengajak untuk berkompromi dengan demokrasi, ketimbang menentang dan mengabaikannya.

Awal mulanya, ada salah satu artikelnya yang menunjukkan bahwa dirinya menganggap Islam itu dizhalimi ketika ada yang beranggapan bahwa Islam itu bertentangan dengan Demokrasi, dan pada akhirnya, artikelnya tersebut menunjukkan pengingkarannya terhadap aktivis muslim yang menolak demokrasi dan menganggap penolakan mereka ini sebagai suatu hal yang syâdz (aneh/ganjil) terhadap seruan Islam secara umum.

Oleh sebab isu demokrasi ini merupakan salah satu hal yang tengah diperbincangkan di dunia Islam dan banyak sekali perdebatan mengenainya akhir-akhir ini, disamping juga adanya orang yang memutlakkan pendapatnya bahwa Islam itu identik dengan sistem demokrasi, bahkan mereka beranggapan bahwa menentang demokrasi itu adalah suatu hal yang syâdz, maka hal ini perlu dikritisi dan dijelaskan. Saya memandang perlunya untuk membantah beberapa hal yang cukup urgen di sini, yang terangkum dalam beberapa poin berikut ini :

1. Penjelasan sikap yang syar’î terhadap demokrasi beserta bukti dan dalil-dalilnya.
2. Penjelasan bahwa sikap menolak demokrasi ini apakah termasuk sikap yang diserukan kaum muslimin secara umum ataukah sikap yang aneh/ganjil
3. Demokrasi itu merupakan sisi lain dari kediktatoran.
Baca lebih lanjut

Ucapan Ulang Tahun Bukan Basa Basi

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillahirabil’alamin. Alladzi allafa baina quluubil mu’minin.

Asyhaduallaa ilaaha illallah, wa anna muhammadar rasulullah. Allahumma shalli wa sallim ‘ala Muhammad…

Sebuah prinsip yang diajarkan; kami ridha Islam sebagai dien/agama. Yang dimaksud dengan dien adalah ideologi/tatanan hidup. Artinya seorang yang muslim menjadikan segala amalannya diatur dengan Islam. Dia melaksanakan yang diperintahkan dalam Islam dan meninggalkan yang dilarang di dalamnya. Kita telah sepakat bahwa dien al-Islam adalah dien yang sempurna. Tidak berlebihan, apalagi kekurangan. Muatannya pas, cocok diterapkan di segala tempat setiap waktu. Seseorang tidak boleh mengada-ada dalam urusan agama. Di sisi lain dia juga tidak boleh beriman dengan sebagian risalah dan mengingkari sebagian lainnya.

Sebagai agama yang sempurna, Islam mengatur segala hal yang dapat mengantarkan manusia kepada keridhoan Allah. Islam juga mengatur bagaimana interaksi seseorang dengan orang-orang di sekitarnya. Islam juga mengatur cara berbuat baik kepada orang lain.

Mungkin bermaksud mempererat persahabatan dan membahagiakan teman…

“dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfaal:63)

Ada sebuah pelajaran dari ucapan seorang yang baru masuk Islam.  Baca lebih lanjut 

Doakan Aku Tegar

بسم الله الرحمن الرحيم

Ada fenomena menarik di sekitar kita. Entah ini hanyalah pandangan sempit belaka, atau memang fakta adanya. Konon, era tahun 80-an adalah zaman yang ‘nggak enak’ buat aktivis. Jauh berbeda dengan saat ini. Zaman itu, banyak halangan dakwah. Untuk mengadakan ta’lim kecil-kecilan saja harus siap berurusan dengan aparat. Sebelum mengisi khutbah jum’at – katanya – seorang khatib harus menyetorkan teks khutbah kepada aparat. Pembicaraan pun sangat terbatas. Dakwah begitu terkekang saat itu.

Berputar mendekati 180 derajat darinya, sekarang majelis ta’lim bertaburan di mana-mana. Hadirin variatif dari segala usia.Majelis-majelis kecil menghiasi masjid-masjid besar. Mubaligh tidak perlu menyetor teks khutbah ke ‘lembaga sensor’. Dakwah – khususnya ceramah –  bisa dilakukan oleh siapa saja yang berkompeten.

Wahai para pejuang, bergembiralah dan bersabar …

Perkembangan dakwah berimbas pada metode dakwah. Muslimin semakin kreatif mengemas dakwah. Kajian dibalut lembaran inovasi. Akan tetapi kalau tidak hati-hati Baca lebih lanjut

Mengapa Salam Sejahtera

بسم الله الرحمن الرحيم

Alhamdulillahirobbil’alamin. Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala alihi washohbihi ajma’in.

Masya Allah… Ternyata dalam kehidupan sehari-hari kita terkadang sembrono dengan kata-kata. Ada kalimat yang berat di sisi aqidah, namun kita remehkan, seakan  basa-basi semacam itu tidak akan diperhitungkan.

Segala puji kita haturkan kepada Rabb kita, Allah subhanahu wa ta’ala. Dialah yang mengutus para nabi dan rasul. Dialah yang telah mengutus Ibrahim. Dia pula yang mengajarinya tauhid, setelah ‘bergonta-ganti’ keyakinan. Dialah yang menunjukinya kepada kebenaran.

Maha suci Allah yang telah mengokohkan keimanan Ibrahim. Ibrahim remaja telah berhasil menyedot perhatian orang sekampungnya. ‘Tingkahnya’ bagai petir di siang bolong. Dan kita semua sudah tahu kisahnya tentang penghancuran berhala. Dia berani beradu argumen dengan Namrudz yang akan menghukumnya. Namrudz sungguh murka atas perbuatan Ibrahim. Akan tetapi kemudian Ibrahim merobohkan kecongkakan kaum-kaumnya yang kafir dengan ‘argumen ringan’.

Baca lebih lanjut

Semangat Itu Penting, Mas…

بسم الله الرحمن الرحيم

Seperti biasa, kaki melangkah di pagi yang tampaknya cerah. Minggu pagi memang begitu spesial bagi banyak orang sibuk sepertiku. Masjid Kampus UGM, seperti biasa telah disambangi puluhan, bahkan mungkin ratusan orang. Mereka menyimak uraian tafsir dari sang Ustadz. Seperti biasa pula, ustadz telah hadir ketika kaki kananku terayun di masjid. Dengan kata lain, aku telat lagi….

Pagi ini dibahas tafsir surat Al-Haqqah. Pembahasan masih di ayat-ayat awal. Uraian yang begitu tuntas dari sang ustadz alumni sebuah universitas di tanah haram itu membuat kepala pantas terangguk. Membuka cakrawala yang lama tertutup oleh kesibukan yang membuat hati terlena. Memang, kita begitu cethil (pelit) untuk membagi waktu belajar agama.

Setelah mendengar penjelasan memuaskan dari sang ustadz, hadirin bersiap memasuki sesi tanya jawab. Senjata-senjata dibawa ke hadapan. Secarik kertas beserta sebatang pena yang lebih tajam dari pedang dikeluarkan. Akupun tertarik berbuat hal serupa. Ada sebuah pertanyaan yang ingin kutuliskan.

Berikutnya, satu per satu orang-orang maju, menuju meja guru (ustadz), meluruskan tangan yang kaku, menghantarkan kertas bertulis tanyu (editor : ‘tanya’ mas… Anda terlalu meksa). Sampai tibalah waktunya sang ustadz menjawab pertanyaanku.

Bagaimana metode pendekatan kepada objek dakwah, berapa lama perlu dilakukan ?

Tak kusangka jawaban tak seperti yang kuharap. Seakan-akan ketika aku mengharapkan datangnya Pak Polisi, tapi yang datang adalah supporter karate. Pak Ustadz menjawab,

Baca lebih lanjut