Archive for the ‘ Tazkiyatun Nufus ’ Category

Aku Egois

بسم الله الرحمن الرحيم

Duhai, cukup orang beramal karena Allah saja

Jangan khawatir orang di sekitarnya

Cukup orang beramal karena Allah saja

Jikalau benar, tentu sempurna

Pagi ini aku harus sholat

Ini adalah perintah Rabb-ku

Aku harus melakukannya

Meskipun yang lain tidak

Aku egois

Hari ini aku harus mengaji

Inilah perintah Rabb-Ku

Aku harus tadabbur Al-Qur’an

Meskipun yang lain tidak

Aku Baca lebih lanjut

Iklan

Semangat Itu Penting, Mas…

بسم الله الرحمن الرحيم

Seperti biasa, kaki melangkah di pagi yang tampaknya cerah. Minggu pagi memang begitu spesial bagi banyak orang sibuk sepertiku. Masjid Kampus UGM, seperti biasa telah disambangi puluhan, bahkan mungkin ratusan orang. Mereka menyimak uraian tafsir dari sang Ustadz. Seperti biasa pula, ustadz telah hadir ketika kaki kananku terayun di masjid. Dengan kata lain, aku telat lagi….

Pagi ini dibahas tafsir surat Al-Haqqah. Pembahasan masih di ayat-ayat awal. Uraian yang begitu tuntas dari sang ustadz alumni sebuah universitas di tanah haram itu membuat kepala pantas terangguk. Membuka cakrawala yang lama tertutup oleh kesibukan yang membuat hati terlena. Memang, kita begitu cethil (pelit) untuk membagi waktu belajar agama.

Setelah mendengar penjelasan memuaskan dari sang ustadz, hadirin bersiap memasuki sesi tanya jawab. Senjata-senjata dibawa ke hadapan. Secarik kertas beserta sebatang pena yang lebih tajam dari pedang dikeluarkan. Akupun tertarik berbuat hal serupa. Ada sebuah pertanyaan yang ingin kutuliskan.

Berikutnya, satu per satu orang-orang maju, menuju meja guru (ustadz), meluruskan tangan yang kaku, menghantarkan kertas bertulis tanyu (editor : ‘tanya’ mas… Anda terlalu meksa). Sampai tibalah waktunya sang ustadz menjawab pertanyaanku.

Bagaimana metode pendekatan kepada objek dakwah, berapa lama perlu dilakukan ?

Tak kusangka jawaban tak seperti yang kuharap. Seakan-akan ketika aku mengharapkan datangnya Pak Polisi, tapi yang datang adalah supporter karate. Pak Ustadz menjawab,

Baca lebih lanjut

Ini Aku >> Namaku Syahadah

بسم الله الرحمن الرحيم

Aku diberi nama Syahadah, ringkas dan mudah bunyinya. Namun maknanya sangat besar, suatu yang berharga bagi sebagian manusia yang sadar akan wujud dirinya. Aku dididik dalam keluarga yang harmoni, ayahku bernama Muslim Bin Hanif. Manakala ibuku bernama Amanah Binti Taklif. Jadi jelaslah aku ini sebagai seorang islam kalaupun dalam kartu pengenalku perkataan islam tidak tertera. Tetapi aku berbangga mengumumkan kepada dunia status keislamanku.

Keluarga kami berasal dari timur tengah, datuk dan nenekku orang perantau. Mereka selalu merantau dengan membawa bermacam surat dan berita. Mereka bukanlah tukang pos bukan pula wartawan tetapi mereka saudagar yang suka bercerita tentang kebenaran. Kadangkala bila aku menceritakan kaum kerabatku, banyak yang serius mendengar bahkan ingin menjadi keluargaku. Namun begitu, ada juga setengah pihak merasa keluargaku penyekat kemajuan, bahkan kalau bisa mereka ingin saja menyisihkan keluargaku yang harmoni ini dari masyarakat setempat.

Baca lebih lanjut

Nak, Kukirimkan Surat Ini Untukmu

Surat Ini Untukmu………………
« pada: 14 November 2008, 12:59:50 »

——————————————————————————–

Assalamu’alaikum,

Segala puji Ibu panjatkan kehadirat Allah ta’ala yang telah memudahkan Ibu untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam Ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya. Amin…

Wahai anakku, Surat ini datang dari Ibumu yang selalu dirundung sengsara… Setelah berpikir panjang Ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri. Setiap kali menulis, setiap kali itu pula gores tulisan terhalang oleh tangis, dan setiap kali menitikkan air mata setiap itu pula hati terluka… Wahai anakku! Sepanjang masa yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadi laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak! Karenanya engkau pantas membaca tulisan ini, sekalipun nantinya engkau remas kertas ini lalu engkau merobeknya, sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hati dan telah engkau robek pula perasaanku.
Baca lebih lanjut