Posts Tagged ‘ da’i ’

Doakan Aku Tegar

بسم الله الرحمن الرحيم

Ada fenomena menarik di sekitar kita. Entah ini hanyalah pandangan sempit belaka, atau memang fakta adanya. Konon, era tahun 80-an adalah zaman yang ‘nggak enak’ buat aktivis. Jauh berbeda dengan saat ini. Zaman itu, banyak halangan dakwah. Untuk mengadakan ta’lim kecil-kecilan saja harus siap berurusan dengan aparat. Sebelum mengisi khutbah jum’at – katanya – seorang khatib harus menyetorkan teks khutbah kepada aparat. Pembicaraan pun sangat terbatas. Dakwah begitu terkekang saat itu.

Berputar mendekati 180 derajat darinya, sekarang majelis ta’lim bertaburan di mana-mana. Hadirin variatif dari segala usia.Majelis-majelis kecil menghiasi masjid-masjid besar. Mubaligh tidak perlu menyetor teks khutbah ke ‘lembaga sensor’. Dakwah – khususnya ceramah –  bisa dilakukan oleh siapa saja yang berkompeten.

Wahai para pejuang, bergembiralah dan bersabar …

Perkembangan dakwah berimbas pada metode dakwah. Muslimin semakin kreatif mengemas dakwah. Kajian dibalut lembaran inovasi. Akan tetapi kalau tidak hati-hati Baca lebih lanjut

Iklan

Semangat Itu Penting, Mas…

بسم الله الرحمن الرحيم

Seperti biasa, kaki melangkah di pagi yang tampaknya cerah. Minggu pagi memang begitu spesial bagi banyak orang sibuk sepertiku. Masjid Kampus UGM, seperti biasa telah disambangi puluhan, bahkan mungkin ratusan orang. Mereka menyimak uraian tafsir dari sang Ustadz. Seperti biasa pula, ustadz telah hadir ketika kaki kananku terayun di masjid. Dengan kata lain, aku telat lagi….

Pagi ini dibahas tafsir surat Al-Haqqah. Pembahasan masih di ayat-ayat awal. Uraian yang begitu tuntas dari sang ustadz alumni sebuah universitas di tanah haram itu membuat kepala pantas terangguk. Membuka cakrawala yang lama tertutup oleh kesibukan yang membuat hati terlena. Memang, kita begitu cethil (pelit) untuk membagi waktu belajar agama.

Setelah mendengar penjelasan memuaskan dari sang ustadz, hadirin bersiap memasuki sesi tanya jawab. Senjata-senjata dibawa ke hadapan. Secarik kertas beserta sebatang pena yang lebih tajam dari pedang dikeluarkan. Akupun tertarik berbuat hal serupa. Ada sebuah pertanyaan yang ingin kutuliskan.

Berikutnya, satu per satu orang-orang maju, menuju meja guru (ustadz), meluruskan tangan yang kaku, menghantarkan kertas bertulis tanyu (editor : ‘tanya’ mas… Anda terlalu meksa). Sampai tibalah waktunya sang ustadz menjawab pertanyaanku.

Bagaimana metode pendekatan kepada objek dakwah, berapa lama perlu dilakukan ?

Tak kusangka jawaban tak seperti yang kuharap. Seakan-akan ketika aku mengharapkan datangnya Pak Polisi, tapi yang datang adalah supporter karate. Pak Ustadz menjawab,

Baca lebih lanjut